Tampilkan postingan dengan label Manhaj Ahlus Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj Ahlus Sunnah. Tampilkan semua postingan

25 September, 2010

ISLAM DAN KEBEBASAN

Oleh : Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthon


Banyak manusia yang hidup di dunia ini menginginkan hidup bebas, tidak terkekang dengan berbagai aturan. Bahkan karena kuatnya keinginan ini, mereka tidak lagi mengindahkan norma-norma agama. Mereka menganggap agama sebagai belenggu yang menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan belaka. Meskipun fakta menolak keinginan mereka, karena kebebasan tanpa batas itu mustahil terwujud di dunia ini, namun karena sudah terbius dan terlena dengan rayuan nafsu, mereka tetap saja mengejar hayalan dan impian mereka.

19 September, 2010

Ahlus Sunnah Taat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin

Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajibnya taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat kemaksiatan, meskipun mereka berbuat zhalim. Karena mentaati mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wajib.
Sebagaimana firman Allah  Ta’ala: “Artinya : Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian”[An-Nisaa : 59]
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Artinya : Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan”[1]

18 September, 2010

Nasihat Syaikh Rabi' bagi Pengelola Situs Internet


Penulis: Asy-Syaikh Al Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali
بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat serta salam bagi Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, keluarga, para sahabatnya dan mereka yang mengikuti petunjuk Beliau.

Amma ba’du
Sesungguhnya dengan sebab perkara yang menimpa Islam dan kaum muslimin berupa kejadian-kejadian yang suram, kehinaan dan keterpurukan di hadapan musuh-musuh Islam. Nasib kaum muslimin di depan musuh-musuhnya bagaikan santapan -di nampan - di hadapan para pemangsanya. Maka kami menyeru kepada para ulama kaum muslimin dan lembaga-lembaga ilmiah di tiap-tiap daerah yang ada di penjuru dunia, juga pemerintah kaum muslimin agar semuanya bertaqwa kepada Allah tentang kondisi ummat dewasa ini.
Hendaklah mereka mengetahui betapa ummat ini terancam mara bahaya, bahkan tertimpa bencana dan malapetaka.

17 September, 2010

Pemimpin, Cerminan dari Rakyatnya

Segala puji  bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Kadang kita sebagai rakyat jelata selalu menyalahkan Si Presiden. Pemimpin jadi tumpahan kesalahan atas kerusakan yang di mana-mana terjadi. Pemimpin yang jadi biang kesalahan atas korupsi di berbagai jajaran. Semua gara-gara Si Presiden. Kenapa setiap orang tidak mengintrospeksi diri sebelum menyalahkan penguasa. Yang patut dipahami, pemimpin adalah sebenarnya cerminan dari rakyatnya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan,

16 September, 2010

Garis Pemisah Antara Dakwah Salafiyyah dan Dakwah Hizbiyyah

Oleh :  Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah 

Islam sekarang ini sedang menghadapi bahaya yang besar dari musuh-musuhnya. Ada musuh-musuh yang menampakkan permusuhan mereka kepada Islam secara terang-terangan, seperti orang-orang kafir Yahudi, Nashara, Hindu, Budha, Komunis, dan yang lainnya. Atau musuh-musuh Islam yang tidak begitu nampak permusuhannya kepada Islam dari munafikin dan ahli bid'ah wal ahwa'.

Adapun orang-orang kafir dari luar Islam, mereka menyerang Islam dari luar. Sedangkan orang-orang munafik dan ahli bid'ah, mereka menikam kaum muslimin dari arah belakang.

13 September, 2010

CERMINAN DIRI ANDA


Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc. 


Sangat mudah mengetahui seperti apa cerminan diri Anda. Cukup dengan melihat bersama siapa saja Anda sering bergaul, seperti itulah cerminan diri Anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
(الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ)
Artinya : “Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin.”[1]

24 Agustus, 2010

Ketika Nasihat Dianggap Celaan

Oleh Ustadz Abu Muhammad Idral Harits
(Ma’had Darussalaf, Solo)

Sebenarnya, menyebut-nyebut seseorang dengan sesuatu yang tidak disukainya adalah haram. Yaitu jika semua itu hanya dilandasi keinginan untuk mencela, meremehkan, atau menjatuhkan.
Namun bila di dalam penyebutan tersebut terkandung manfaat atau maslahat yang besar, bagi kaum muslimin pada umumnya atau pada sebagian orang khususnya, maka penyebutan seperti ini bukanlah sesuatu yang haram, bahkan sangat dianjurkan. (Al-Farqu Bainan Nashihat wat Ta’yiir, Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah)

22 Agustus, 2010

Bahaya Berbicara Agama Tanpa lmu

Penulis: Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari


Memahami ilmu agama merupakan kewajiban atas setiap muslim dan muslimah. Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim (HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani). Dan agama adalah apa yang telah difirmankan oleh Alloh di dalam kitabNya, Al-Qur’anul Karim, dan disabdakan oleh RosulNya di dalam Sunnahnya. Oleh karena itulah termasuk kesalahan yang sangat berbahaya adalah berbicara masalah agama tanpa ilmu dari Alloh dan RosulNya. Sebagai nasehat sesama umat Islam, di sini kami sampaikan di antara bahaya berbicara masalah agama tanpa ilmu:

16 Agustus, 2010

Kekeliruan dalam memahami ‘Sanad’ (1/2)

Terkadang ketika kita menjelaskan sebuah kebenaran (yang berdasarkan HUJJAH yang terang dan jelas, yang bersumber dari kitabullåh, sunnah Råsulullåh dan perkataan ‘ulama yang memahami keduanya) kepada seseorang, namun terkadang kita mendapati ia BERKILAH untuk mengikuti kebenaran tersebut bahkan melecehkan penyampai kebenaran tersebut dengan berkata:
Ah, kamu itu ilmunya juga dapat dari guru yang tidak jelas ‘sanad’-nya, lihatlah guru kami, ‘sanad’nya sampai ke Rasulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam

30 Juli, 2010

Hidup di Tiap Zaman dalam Islam

Penulis : Abu Zayd Abdul Aziz Ibn Thamrin Ibn Rukban

Setelah aku beriman kepada Allah dan malaikat-Nya dan mengetahui bahwa hidup adalah untuk beribadah kepada Allah tabaroka wa ta'ala, maka :
Jika Allah taqdirkan aku hidup di zaman sebelum Muhammad menjadi Rasulullah, maka aku akan ber-Islam dengan mengikuti ajaran Ibrahim hingga Isa bin Maryam sebagai rasul terakhir pada WAKTU ITU dan akupun menjadi Nasrani yang mentauhidkan Allah seperti yang diajarkan Isa alaihi sholatu wassalam dimana Allah hanya satu tidak beranak atau menjadi anak dari siapapun/apapun.

Islam untuk Seluruh Manusia Agama Segala Zaman

Penulis : Abu Zayd Abdul Aziz ibn Thamrin ibn Rukban

Menjaga keislaman merupakan salah satu konsekwensi dari persaksian bahwa kita mengakui dengan jujur dan ikhlas bahwa Allah adalah Satu-satunya Yang Berhak Disembah dengan benar dari berita yang dibawa oleh seorang hamba-Nya yang jujur dan amanah bernama Muhammad bin Abdullah sebagai Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wasallam hingga Beliau wafat setelah menunaikan tugas kerasulannya dengan sempurna atas bimbingan dan perlindungan langsung dari Allah Subhanahu wa ta'ala.